KESEHATAN & FARMASI

Mengapa Vaksin TB Baru Dibutuhkan, Padahal Sudah Ada BCG?

By Dr. apt. Priyanto, M.Biomed
Journalist
June 09, 2026 5 min read
Mengapa Vaksin TB Baru Dibutuhkan, Padahal Sudah Ada BCG?
Photo by Unsplash

"Vaksin BCG telah digunakan selama lebih dari 100 tahun. Lalu mengapa para ilmuwan masih mengembangkan vaksin TB baru? Temukan jawabannya berdasarkan f..."

Mengapa Vaksin TB Baru Dibutuhkan, Padahal Sudah Ada BCG?

      Ketika muncul berita mengenai uji klinik vaksin TB generasi baru, salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah: "Bukankah selama ini sudah ada vaksin BCG? Mengapa harus membuat vaksin baru?" Pertanyaan tersebut sangat wajar. Banyak masyarakat mengenal vaksin BCG sejak lama. Di Indonesia, vaksin ini bahkan menjadi bagian dari program imunisasi rutin bayi selama puluhan tahun. Sebagian besar orang dewasa Indonesia juga memiliki bekas suntikan BCG di lengan mereka.

      Karena itu, ketika muncul penelitian vaksin TB baru seperti M72/AS01E (vaksin Bill Gates), sebagian masyarakat merasa bingung. Jika BCG sudah tersedia dan digunakan di seluruh dunia, mengapa para ilmuwan masih berupaya mengembangkan vaksin baru? Apakah BCG tidak efektif? Apakah vaksin baru akan menggantikan BCG? Ataukah ada alasan lain yang belum banyak diketahui masyarakat?

      Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu memahami terlebih dahulu sejarah dan peran penting vaksin BCG dalam pengendalian tuberkulosis (TB) selama lebih dari satu abad ini.

Apa Itu Vaksin BCG?

     BCG merupakan singkatan dari Bacillus Calmette-Guérin, yaitu vaksin yang dikembangkan oleh dua ilmuwan Prancis, Albert Calmette dan Camille Guérin, pada awal abad ke-20. Vaksin ini dibuat dari bakteri Mycobacterium bovis yang telah dilemahkan sehingga tidak menyebabkan penyakit pada orang sehat, tetapi masih mampu merangsang sistem kekebalan tubuh. BCG mulai digunakan secara luas pada tahun 1920-an dan hingga kini menjadi salah satu vaksin yang paling banyak digunakan di dunia.

      Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari empat miliar dosis BCG telah diberikan secara global sejak pertama kali diperkenalkan. Di banyak negara, termasuk Indonesia, vaksin BCG diberikan kepada bayi untuk membantu melindungi mereka dari bentuk TB yang berat dan berbahaya. Selama puluhan tahun, BCG menjadi satu-satunya vaksin yang tersedia untuk melawan tuberkulosis. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peran vaksin tersebut dalam sejarah kesehatan masyarakat dunia.

Keberhasilan Besar Vaksin BCG

      Dalam diskusi mengenai vaksin TB generasi baru, satu hal yang perlu ditegaskan sejak awal adalah bahwa BCG merupakan salah satu keberhasilan besar dalam dunia kesehatan. Vaksin ini telah menyelamatkan jutaan nyawa dan membantu mengurangi beban penyakit TB di berbagai negara. Manfaat terbesar BCG terlihat pada anak-anak, terutama dalam mencegah bentuk TB berat seperti:

  • TB meningitis (radang selaput otak akibat TB),
  • TB milier (TB yang menyebar ke berbagai organ tubuh),
  • berbagai komplikasi TB serius pada bayi dan anak kecil.

      Sebelum vaksin BCG digunakan secara luas, bentuk-bentuk TB berat tersebut sering menyebabkan kecacatan permanen bahkan kematian. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa BCG memberikan perlindungan yang baik terhadap bentuk TB berat pada anak-anak. Karena itu, hingga saat ini WHO masih merekomendasikan penggunaan BCG pada negara-negara dengan angka kejadian TB yang tinggi. Dengan kata lain, pengembangan vaksin TB baru bukan berarti BCG gagal.

Sebaliknya, BCG telah memberikan kontribusi luar biasa terhadap kesehatan masyarakat global.

Keterbatasan BCG: Tantangan yang Masih Belum Terpecahkan

      Jika BCG begitu berhasil, mengapa dunia masih mencari vaksin baru? Jawabannya terletak pada keterbatasan BCG itu sendiri. Meskipun efektif melindungi anak-anak dari TB berat, efektivitas BCG terhadap TB paru pada remaja dan orang dewasa jauh lebih bervariasi. TB paru merupakan bentuk TB yang paling umum dan paling berperan dalam penularan penyakit di masyarakat. Berbagai studi menunjukkan bahwa perlindungan BCG terhadap TB paru pada orang dewasa tidak selalu konsisten.

Di beberapa wilayah, efektivitasnya cukup baik. Namun di wilayah lain, perlindungannya relatif rendah.

      Selain itu, perlindungan yang diberikan BCG cenderung menurun seiring waktu. Akibatnya, banyak orang yang pernah menerima BCG saat bayi tetap dapat mengalami TB ketika dewasa. Inilah salah satu alasan utama mengapa tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan global meskipun vaksin BCG telah digunakan selama lebih dari 100 tahun. Dengan kata lain, BCG berhasil melindungi banyak anak dari TB berat, tetapi belum mampu menghentikan penularan TB secara optimal di tingkat populasi.

Situasi TB Saat Ini: Masalah yang Belum Selesai

      Sebagian masyarakat mungkin mengira TB adalah penyakit masa lalu yang sudah berhasil dikendalikan. Faktanya, TB masih menjadi salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia.

Menurut WHO, jutaan kasus TB baru masih terjadi setiap tahun dan lebih dari satu juta orang meninggal akibat penyakit ini. Indonesia termasuk negara dengan beban TB tertinggi di dunia.

      Setiap tahun, ratusan ribu kasus baru ditemukan, sementara sebagian kasus lainnya belum terdiagnosis atau belum mendapatkan pengobatan yang memadai. TB yang belum terdiagnosis atau belum mendapatkan pengobatan yang memadai menjadi faktor penting dalam  penularan TB. 

      TB juga memiliki dampak sosial dan ekonomi yang besar. Penderita sering kehilangan produktivitas, mengalami penurunan pendapatan, dan membutuhkan pengobatan dalam jangka waktu panjang. Selain itu, munculnya TB resistan obat semakin memperumit upaya pengendalian penyakit ini. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan TB masih jauh dari selesai. Karena itu, dunia membutuhkan strategi baru yang lebih efektif, termasuk pengembangan vaksin generasi berikutnya.

Apa yang Ingin Dicapai oleh Vaksin M72?

      Salah satu kandidat vaksin TB yang saat ini menjadi perhatian dunia adalah M72/AS01E. Vaksin ini dikembangkan untuk menjawab celah yang belum dapat ditutupi oleh BCG. Sasaran utama vaksin M72 bukan bayi, melainkan remaja dan orang dewasa. Kelompok usia ini sangat penting karena merupakan kelompok yang paling berperan dalam penularan TB di masyarakat. Tujuan utamanya adalah membantu mencegah berkembangnya penyakit TB aktif pada individu yang berisiko.

      Yang perlu dipahami, M72 tidak dirancang untuk menggantikan BCG. Sebaliknya, vaksin ini diharapkan menjadi pelengkap. Jika BCG berfungsi melindungi anak-anak dari TB berat, maka vaksin seperti M72 diharapkan dapat memberikan perlindungan tambahan pada usia yang lebih tua.

      Konsep ini sebenarnya tidak asing dalam dunia vaksinasi. Beberapa penyakit memerlukan lebih dari satu jenis vaksin atau dosis tambahan untuk memberikan perlindungan yang optimal sepanjang hidup. Karena itu, munculnya vaksin TB baru tidak berarti BCG akan ditinggalkan.

Mengapa Inovasi Tetap Diperlukan?

      Sebagian orang berpendapat bahwa karena sudah ada vaksin, maka tidak perlu lagi mengembangkan vaksin baru. Namun sejarah kedokteran menunjukkan bahwa inovasi merupakan bagian penting dari kemajuan kesehatan. Sebagai contoh, antibiotik terus dikembangkan karena bakteri dapat mengalami resistensi.

      Alat diagnostik juga terus diperbarui agar penyakit dapat dideteksi lebih cepat dan lebih akurat.

Hal yang sama berlaku pada vaksin. Ilmu pengetahuan terus berkembang. Pemahaman mengenai sistem imun semakin baik. Teknologi pembuatan vaksin juga semakin maju. Karena itu, para ilmuwan terus berupaya mencari vaksin yang:

  • lebih efektif,
  • memberikan perlindungan lebih lama,
  • bekerja pada kelompok usia yang lebih luas,
  • mampu menurunkan penularan penyakit secara signifikan.

      Jika para ilmuwan berhenti berinovasi hanya karena sudah ada teknologi lama, maka banyak kemajuan kesehatan yang kita nikmati saat ini tidak akan pernah terjadi. Dalam konteks TB, kebutuhan akan inovasi menjadi semakin penting karena penyakit ini masih menyebabkan jutaan kasus setiap tahun.

Melihat Pengembangan Vaksin Baru Secara Proporsional

      Munculnya penelitian vaksin TB baru seharusnya tidak dipahami sebagai bukti bahwa BCG gagal. Sebaliknya, hal tersebut menunjukkan bahwa para ilmuwan sedang berusaha mengatasi bagian masalah yang belum terselesaikan. BCG telah memberikan perlindungan yang sangat berharga selama lebih dari satu abad. Namun tantangan TB saat ini berbeda dengan kondisi ketika vaksin tersebut pertama kali dikembangkan.

      Karena itu, pengembangan vaksin generasi baru merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan pengendalian TB di masa depan. Tentu saja setiap kandidat vaksin baru harus melalui proses penelitian yang ketat, termasuk uji klinik fase 3, sebelum dapat digunakan secara luas.

Keputusan penggunaan vaksin harus selalu didasarkan pada bukti ilmiah yang kuat, bukan pada harapan semata.

Kesimpulan

      Vaksin BCG merupakan salah satu pencapaian besar dalam sejarah kesehatan masyarakat. Selama lebih dari satu abad, vaksin ini telah membantu melindungi jutaan anak dari bentuk TB yang berat dan berbahaya. Namun keberhasilan tersebut tidak berarti bahwa semua tantangan TB telah selesai. TB masih menjadi salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia, termasuk di Indonesia. Perlindungan BCG terhadap TB paru pada remaja dan orang dewasa juga memiliki keterbatasan yang telah lama dikenal para peneliti.

      Karena itu, pengembangan vaksin TB generasi baru seperti M72 dilakukan untuk melengkapi, bukan menggantikan, peran BCG. Sebagaimana antibiotik, alat diagnostik, dan teknologi kesehatan lainnya terus berkembang, inovasi vaksin juga diperlukan agar upaya pengendalian TB dapat menjadi lebih efektif di masa depan.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukanlah apakah BCG gagal, melainkan bagaimana ilmu pengetahuan dapat membantu menyempurnakan perlindungan yang telah diberikan oleh BCG selama ini. "Perdebatan tentang vaksin TB bukan hanya tentang satu produk kesehatan. Ini adalah kesempatan untuk meningkatkan literasi ilmiah masyarakat: memahami bagaimana penelitian dilakukan, bagaimana bukti dinilai, dan bagaimana keputusan kesehatan masyarakat dibuat."

Baca juga:

·       Apa Sebenarnya Uji Klinik Fase 3?

·       Bill Gates, Vaksin TB, dan Cara Kerja Riset Kesehatan Global

Daftar Rujukan

1.     World Health Organization. Global Tuberculosis Report 2024. Geneva: WHO; 2024. 

2.     World Health Organization. Weekly Epidemiological Record. WHO. 

3.     Calmette Albert dan Camille Guérin. Historical development of BCG vaccine. 

4.     The Lancet. Tuberculosis vaccine development and effectiveness studies. 

5.     New England Journal of Medicine. Tait DR, et al. Final Analysis of a Trial of M72/AS01E Vaccine to Prevent Tuberculosis. N Engl J Med. 2019;381:2429–2439. 

6.     Stop TB Partnership. Tuberculosis Vaccine Pipeline and Future Directions